Indonesia Raih Dana Iklim dari GCF, Perkuat Ketahanan Pesisir Pekalongan-Batang Lewat Program BRAVE
Rafid Ali Fajri   |   03/07/2026 - 14:14 WIB
Indonesia Raih Dana Iklim dari GCF, Perkuat Ketahanan Pesisir Pekalongan-Batang Lewat Program BRAVE

PEKALONGAN – Indonesia kembali mencatatkan pencapaian penting dalam upaya penanganan perubahan iklim. Melalui persetujuan pendanaan dari Green Climate Fund (GCF) senilai USD9 juta atau sekitar Rp146 miliar, Indonesia akan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang melalui program Building Flood Resilient Community through Adaptive Livelihood and Runoff Management in Petanglong Area of Central Java Province of Indonesia (BRAVE).

Persetujuan yang diumumkan pada 2 Juli 2026 itu menjadikan BRAVE sebagai proyek pertama di Indonesia yang memperoleh pendanaan melalui skema Direct Access Entity (DAE). Skema ini memungkinkan lembaga nasional mengakses dan mengelola pendanaan internasional secara langsung tanpa perantara lembaga internasional.

Wilayah pesisir Pekalongan dan Batang selama ini menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Banjir rob, abrasi, penurunan muka tanah, hingga cuaca ekstrem terus mengancam permukiman, aktivitas ekonomi, serta mata pencaharian masyarakat, khususnya petani dan nelayan.

Melalui program BRAVE yang akan dilaksanakan selama lima tahun, berbagai upaya adaptasi akan dilakukan mulai dari wilayah hulu hingga hilir. Program ini mencakup restorasi dan pengelolaan sekitar 3.700 hektare ekosistem pesisir, pengembangan mata pencaharian yang tangguh terhadap perubahan iklim, hingga penguatan tata kelola adaptasi di tingkat daerah.

Sebanyak 136.360 masyarakat ditargetkan menjadi penerima manfaat langsung, sementara lebih dari 1,2 juta penduduk di kawasan Petanglong diperkirakan akan merasakan manfaat program tersebut.

Direktur Kerjasama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan sekaligus Kepala Sekretariat National Designated Authority untuk Green Climate Fund Indonesia, Boby Wahyu Hernawan, mengatakan keberhasilan ini menjadi bukti meningkatnya kapasitas Indonesia dalam merancang dan mengelola proyek perubahan iklim sesuai standar internasional.

"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa lembaga nasional mampu memenuhi standar internasional GCF sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan nasional sebagai fondasi utama dalam mengakses pembiayaan iklim," ujarnya.

Menurut Boby, keberhasilan memperoleh pendanaan global tidak terlepas dari kesiapan kelembagaan yang kuat serta kolaborasi lintas sektor. Setiap proposal harus memenuhi standar ketat, mulai dari perlindungan lingkungan dan sosial, mekanisme akuntabilitas, hingga dukungan data ilmiah yang kredibel.

Sementara itu, Direktur Regional GCF untuk Asia dan Pasifik, Hemant Mandal, menyebut BRAVE menjadi tonggak penting, baik bagi Indonesia maupun Green Climate Fund, karena menjadi proyek pertama di Indonesia yang memperoleh pendanaan melalui skema Direct Access Entity.

Ia menilai pendekatan yang diterapkan BRAVE mampu membangun sistem ekonomi masyarakat yang lebih tangguh menghadapi guncangan akibat cuaca ekstrem sekaligus memperkuat kepemimpinan Indonesia dalam aksi perubahan iklim.

Sebagai lembaga nasional yang dipercaya mengelola pendanaan tersebut, Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi panjang antara pemerintah, masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan GCF.

Menurutnya, persetujuan tersebut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan lembaga nasional dalam mengelola pendanaan iklim internasional secara transparan dan akuntabel, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak perubahan iklim.

Selama lima tahun mendatang, KEMITRAAN akan bekerja sama dengan pemerintah, sektor swasta, masyarakat, serta Mercy Corps Indonesia sebagai pelaksana program untuk mengimplementasikan BRAVE di kawasan Petanglong yang meliputi Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang.

Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, menjelaskan fokus utama program adalah memastikan investasi dari GCF benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Program tersebut akan mengembangkan kawasan blue-green space sebagai perlindungan terhadap banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Selain itu, BRAVE juga akan memperkuat mata pencaharian masyarakat melalui pengembangan pertanian dan perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim, sistem informasi iklim, hingga penguatan kebijakan pembangunan daerah agar lebih responsif terhadap risiko perubahan iklim.

Ade berharap BRAVE tidak hanya memberikan manfaat selama masa pelaksanaan proyek, tetapi juga meninggalkan kapasitas, pengetahuan, serta sistem yang mampu memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dalam jangka panjang.

Berita Daerah

Bagikan artikel:

Banner Iklan
Jadwal Tayang Sabtu
Jam Program
08:00 Innovator (DW)
09:00 Indonesiana
11:00 Kominfo Newsroom
12:00 Indonesiana
14:00 Berita Daerah (siang)
15:30 Gerak dan Gaya
16:30 Sosok
17:00 Komunitas Tanpa Batas
17:30 Glow Up
18:00 De Journey
18:30 Info Mase
19:00 Berita Daerah (malam)
20:00 Musiklopedia
21:00 Wayang
Banner Iklan