Dari Sampah Dapur Jadi Kompos, Mahasiswa KKN-T Universitas Diponegoro Inisiasi 4 Komposter di Dukuh Tanjung, Desa Tanjung Kulon
Agus Romi Haryatno   |   20/08/2026 - 07:29 WIB
Dari Sampah Dapur Jadi Kompos, Mahasiswa KKN-T Universitas Diponegoro Inisiasi 4 Komposter di Dukuh Tanjung, Desa Tanjung Kulon

KKN-T IDBU 54 Universitas Diponegoro mendorong pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat melalui empat komposter di 4 RT Dukuh Tanjung, Desa Tanjung Kulon, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Dukuh Tanjung - Sampah sisa makanan, sayuran, dan daun yang selama ini banyak dibuang begitu saja kini mulai diarahkan untuk diolah menjadi kompos di Dukuh Tanjung. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 54 Universitas Diponegoro (Undip) menginisiasi empat komposter yang ditempatkan di masing-masing RT.

Program bertajuk “Inisiasi Pembuatan 4 Komposter di Setiap RT Dukuh Tanjung” dipimpin oleh Shafrizal Mudhofir selaku Ketua Tim Dukuh Tanjung KKN-T IDBU 54 Universitas Diponegoro. Melibatkan sepuluh mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi dengan rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pembuatan komposter, edukasi, hingga pendampingan pemanfaatan kompos.

Program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengolahan kembali sampah organik menjadi kompos, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi sampah organik yang dibuang dan mendorong praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Tahap awal program dijalankan oleh mahasiswa Statistika melalui survei dan analisis data timbunan sampah organik rumah tangga di 4 RT Dukuh Tanjung. Survei ini dilakukan untuk memperoleh gambaran volume dan jenis sampah organik sebagai dasar penentuan kebutuhan komposter di masing-masing RT. 

Hasil survei menunjukkan bahwa sampah organik yang dihasilkan warga didominasi oleh sisa makanan dan daun-daunan. Setiap RT diperkirakan menghasilkan sekitar 5 kg lebih sampah organik per hari, di luar timbunan sampah daun yang ditemukan cukup banyak di lingkungan sekitar rumah warga. Temuan tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam menentukan kebutuhan pengolahan sampah organik melalui penggunaan komposter di masing-masing RT.

Data yang terkumpul kemudian diolah oleh mahasiswa Teknik Lingkungan untuk menentukan tata letak 4 titik komposter dan alur pengumpulan sampah organik dari rumah warga. Penempatan 4 komposter mempertimbangkan kondisi lingkungan, kepadatan rumah, akses jalan, dan kemudahan warga dalam menggunakannya.

Unit komposter sederhana berbahan drum berlubang aerasi dirancang dan diuji coba langsung di setiap RT. Setelah lokasi ditentukan, mahasiswa Rekayasa Perancangan Mekanik merancang dan membuat empat unit komposter sederhana berbahan drum bekas cat yang dilengkapi lubang aerasi. Keempat unit kemudian dipasang dan diuji coba di masing-masing RT sebelum digunakan oleh warga. 

"Kami ingin memastikan setiap RT memiliki unit komposter yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar dipasang. Karena itu dilakukan uji coba terlebih dahulu sebelum komposter benar-benar digunakan oleh warga," ujar mahasiswa Rekayasa Perancangan Mekanik, Tim KKN Dukuh Tanjung.

Mahasiswa Bioteknologi kemudian memberikan edukasi mengenai proses pengomposan dan tanda-tanda kompos matang. Warga dikenalkan dengan indikator sederhana seperti warna, suhu, bau, dan tekstur untuk membantu menentukan kondisi kompos sebelum digunakan pada tanaman. 

Menghitung Potensi Manfaat Ekonomi 

Program ini tidak hanya melihat komposter dari sisi lingkungan, tetapi juga memperhitungkan potensi manfaat ekonominya. Dengan empat komposter berkapasitas total 200 liter yang diperkirakan melayani sekitar 32–40 rumah, mahasiswa Ekonomi mengestimasi potensi produksi sekitar 38,9 kilogram kompos matang per bulan atau 467 kilogram per tahun.

Dari perhitungan awal, potensi nilai ekonomi mencapai sekitar Rp14.325 per bulan atau Rp171.897 per tahun, yang berasal dari estimasi pengurangan biaya pengangkutan sampah dan penghematan pembelian pupuk. Angka tersebut masih berupa estimasi awal dan akan diperbarui setelah komposter digunakan secara rutin oleh masyarakat.

Sejalan dengan itu, mahasiswa Akuntansi Perpajakan menyusun Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pembuatan komposter per RT beserta format pencatatan biaya operasional dan pemeliharaan. Berdasarkan perhitungan tersebut, kebutuhan biaya pembuatan komposter dapat didukung melalui iuran warga secara gotong royong, dengan estimasi kontribusi sekitar Rp2.000 per orang dalam kelompok Dawis. Kebutuhan biaya komposter tiap RT tercatat sebesar Rp80.000, yang mencakup bahan dan pembuatan komposter serta kebutuhan pendukung pencatatan. Pendampingan pencatatan juga diberikan kepada pengurus RT agar biaya pembuatan, operasional, dan pemeliharaan komposter dapat dikelola secara transparan.

Edukasi dan Pemanfaatan

Untuk memudahkan warga menggunakan komposter, mahasiswa Bahasa Asing Terapan menyusun modul edukasi dengan bahasa yang komunikatif. Mahasiswa Informasi dan Humas melengkapinya dengan papan informasi dan poster panduan penggunaan yang dipasang di titik-titik komposter.

Proses pembuatan hingga pemasangan komposter juga didokumentasikan dan dipublikasikan melalui media sosial serta grup warga sebagai bagian dari edukasi mengenai pengelolaan sampah organik.

Pendampingan pemanfaatan hasil kompos untuk mendukung kegiatan pertanian warga Dukuh Tanjung. 

Setelah komposter tersedia di setiap RT, mahasiswa Agribisnis memberikan pendampingan mengenai pemanfaatan hasil pengomposan untuk tanaman warga. Pendampingan ini diarahkan pada pemanfaatan kompos setelah proses pengomposan mencapai kondisi yang sesuai untuk digunakan, mengikuti indikator kematangan yang telah diperkenalkan sebelumnya.

Mahasiswa Agribisnis turut menjelaskan cara mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair (POC) maupun pupuk organik padat (POP) dengan bantuan bioaktivator EM4 dan molase untuk mempercepat proses fermentasi. Molase yang tidak selalu mudah ditemukan warga dapat digantikan dengan larutan gula, sehingga warga tetap dapat membuat pupuk organik secara mandiri menggunakan bahan yang lebih terjangkau.

Kepala Desa Desa Tanjung Kulon,  Amsori, menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian dan peningkatan kesadaran masyarakat.

“Kalau untuk kondisi sampah saat ini, memang masih jadi perhatian kami. Terutama sampah rumah tangga seperti sisa makanan, sayuran, atau daun-daun, kebanyakan masih langsung dibuang begitu saja. Jadi memang kami masih perlu meningkatkan kesadaran masyarakat agar sampah itu bisa dikelola dengan lebih baik dan bermanfaat,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan komposter dapat memberikan manfaat bagi masyarakat karena sampah organik rumah tangga yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi pupuk untuk tanaman. Ia juga mengapresiasi ide dan pendampingan yang diberikan mahasiswa KKN-T kepada warga.

Bapak Amsori berharap komposter yang telah disediakan dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir.

“Harapan saya tentunya masyarakat Dukuh Tanjung bisa memanfaatkan komposter yang sudah disediakan dan menerapkan apa yang sudah diajarkan oleh mas-mas dan mba-mba KKN. Semoga komposter ini dimanfaatkan tidak hanya saat program berlangsung, tetapi juga menjadi kebiasaan untuk kedepannya,” tuturnya.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada pemasangan empat unit komposter. Dengan adanya pendampingan dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan sampah organik di Dukuh Tanjung diharapkan dapat terus dilakukan secara mandiri dan menjadi bagian dari kebiasaan warga dalam menjaga lingkungan.


Berita Daerah

Bagikan artikel:

Banner Iklan
Jadwal Tayang Jumat
Jam Program
08:00 Innovator (DW)
09:00 Indonesiana
11:00 Kominfo Newsroom
12:00 Indonesiana
14:00 Berita Daerah (siang)
15:30 Innovator (DW)
16:00 CEK IN (DW)
16:30 Sportframe
17:00 Before After
17:30 Iqro
18:00 Icip-icip
18:30 Peluang
19:00 Berita Daerah (malam)
20:00 Expose2
21:00 Wayang
Banner Iklan