Kota Pekalongan – DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan menggelar sarasehan dalam rangka memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan, Minggu (26/7/2026) malam. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Pekalongan, pengurus PAC, badan dan sayap partai, kader serta simpatisan.
Kegiatan diawali dengan sarasehan bertema mengenang 30 tahun Peristiwa Kudatuli yang bertujuan mengingat kembali salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi di Indonesia. Suasana berlangsung khidmat ketika seluruh peserta mengikuti renungan dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang demokrasi yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan PDI Perjuangan.
Usai doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan nonton bareng (nobar) film dokumenter yang mengisahkan kronologi Peristiwa Kudatuli. Melalui tayangan tersebut, peserta diajak memahami kembali situasi politik saat itu, perjuangan kader PDI dalam mempertahankan kantor DPP PDI, hingga dampak peristiwa tersebut terhadap lahirnya era Reformasi.
Seluruh rangkaian kegiatan dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan, H. Gumelar. Menurutnya, peringatan tersebut menjadi momentum untuk terus menanamkan semangat perjuangan, menjaga nilai-nilai demokrasi, serta memperkuat soliditas kader dalam menjalankan amanah partai di tengah masyarakat.
Mewakili Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan, H. Masykur Taib, mengatakan bahwa Peristiwa Kudatuli merupakan bagian penting dalam sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.
"Peristiwa 27 Juli ini terjadi pada tahun 1996. Saat itu merupakan bagian dari dinamika politik pasca Kongres PDI di Medan tahun 1993. Kudatuli menjadi salah satu momentum lahirnya Reformasi karena merupakan bentuk perlawanan terhadap penindasan kebebasan berpendapat. Dari perjalanan itu kemudian lahir kehidupan demokrasi yang lebih terbuka, termasuk sistem multipartai yang kita rasakan hingga sekarang," katanya.
Menurut Masykur, generasi muda, khususnya kader PDI Perjuangan, perlu memahami sejarah tersebut agar mengetahui bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini lahir melalui perjuangan yang panjang.
"Kita tidak ingin melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sebagai kader, kami ingin mengingatkan kembali kepada kader-kader muda. Apalagi generasi Z saat ini sebagian besar belum lahir ketika peristiwa itu terjadi, sehingga mereka perlu diberi pengetahuan, pemahaman, dan sejarah yang sebenarnya. Jangan sampai sejarah bangsa ini hilang dari ingatan generasi penerus," ujarnya.
Ia menambahkan, peringatan tersebut bukan hanya menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan juga bagian dari pendidikan politik bagi kader agar tetap menjaga nilai-nilai demokrasi, keberanian menyampaikan aspirasi, serta semangat memperjuangkan kepentingan rakyat.
Sementara itu, tokoh senior PDI Perjuangan Kota Pekalongan, H. Ismet Inonu, mengajak seluruh kader untuk menjadikan Peristiwa Kudatuli sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Menurutnya, banyak kader muda saat ini hanya mengetahui nama peristiwanya, namun belum memahami latar belakang dan dampaknya bagi kehidupan politik nasional.
"Peristiwa Kudatuli bukan hanya milik PDI Perjuangan, tetapi merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Dari peristiwa itulah masyarakat mulai melihat bagaimana demokrasi diperjuangkan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Banyak kader saat itu mengalami intimidasi, tekanan, bahkan menjadi korban demi mempertahankan hak berdemokrasi," kata Ismet.
Ia menjelaskan, Kudatuli menjadi salah satu titik balik yang kemudian memunculkan gelombang perubahan hingga lahirnya Reformasi pada 1998. Oleh karena itu, menurutnya, sejarah tersebut harus terus disampaikan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
"Kami yang mengalami langsung suasana politik saat itu memiliki tanggung jawab untuk menceritakan sejarah yang sebenarnya kepada generasi berikutnya. Jangan sampai mereka hanya mendengar sepenggal cerita atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bagaimana perjuangan mempertahankan demokrasi di negeri ini," ujarnya.
Ismet berharap semangat perjuangan yang lahir dari Peristiwa Kudatuli dapat terus diwariskan kepada seluruh kader PDI Perjuangan, khususnya di Kota Pekalongan. Menurutnya, nilai-nilai keberanian, persatuan, loyalitas terhadap partai, dan pengabdian kepada rakyat harus tetap menjadi pegangan dalam menjalankan tugas politik di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan sarasehan, doa bersama, dan nonton bareng dokumenter tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Pekalongan berharap seluruh kader semakin memahami sejarah perjuangan partai sekaligus memperkuat komitmen dalam menjaga demokrasi serta melanjutkan cita-cita perjuangan untuk kepentingan rakyat.
Bagikan artikel:
| Jam | Program |
|---|---|
| 08:00 | Innovator (DW) |
| 09:00 | Indonesiana |
| 11:00 | Kominfo Newsroom |
| 12:00 | Indonesiana |
| 14:00 | Berita Daerah (siang) |
| 15:30 | Dolan Paud |
| 16:00 | Kajian Islam |
| 17:00 | Icip-icip |
| 17:30 | Before After |
| 18:00 | Indonesiana |
| 18:30 | Besti |
| 19:00 | Berita Daerah (malam) |
| 20:00 | Innovator (DW) |
| 20:30 | Corat Coret (PFN) |
| 21:00 | Wayang |