BI Tegal Angkat Tradisi Bubur Suro Jadi Penggerak Ekonomi Syariah
Agus Romi Haryatno   |   13/07/2026 - 12:07 WIB
BI Tegal Angkat Tradisi Bubur Suro Jadi Penggerak Ekonomi Syariah

Kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan dan panitia Festival Bubur Suro Krapyak berhasil menghadirkan konsep baru dalam pelestarian budaya. Melalui Syafaat Festival Bubur Suro 2026, tradisi lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi media penguatan ekonomi syariah, pemberdayaan UMKM, dan penghimpunan wakaf produktif.

Festival yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2026 menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) itu ditutup dengan kirab 5.000 tangkir Bubur Suro, Minggu (12/7) malam. Ribuan warga memadati kawasan Kelurahan Krapyak untuk menyaksikan arak-arakan bubur suro dari Balai Kelurahan menuju Lapangan Krapyak sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala, mengatakan pihaknya sengaja menggandeng Festival Bubur Suro karena melihat besarnya potensi budaya lokal yang telah tumbuh dan mendapat dukungan masyarakat.

"Festival Bubur Suro ini sangat kuat nilai lokalnya. Potensi seperti inilah yang ingin kami angkat agar masyarakat semakin bangga terhadap budayanya sekaligus menjadi penggerak ekonomi syariah," ujarnya.

Menurut Bimala, kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan festival budaya, tetapi juga diisi berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan ekonomi syariah, seperti bazar UMKM, edukasi transaksi digital melalui QRIS, layanan literasi keuangan, jalan sehat, lomba komunitas, hingga gerakan wakaf produktif.

Salah satu capaian yang mendapat perhatian adalah penghimpunan dana wakaf yang selama penyelenggaraan festival mencapai sekitar Rp68 juta. Dana tersebut akan dikelola bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan untuk mendukung program pembibitan varietas biosalin sebagai upaya pengembangan pertanian di kawasan pesisir.

"Alhamdulillah, penghimpunan wakaf tahun ini mencapai sekitar Rp68 juta. Nilainya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap wakaf produktif semakin baik," katanya.

Selain memperkuat ekonomi syariah, festival juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Sekitar 70 stan UMKM ikut meramaikan festival selama tiga hari pelaksanaan dengan menawarkan beragam produk kuliner, fesyen, dan kerajinan.

Wali Kota Pekalongan menyampaikan apresiasi atas perkembangan Festival Bubur Suro yang terus meningkat setiap tahun. Menurutnya, kegiatan yang semula hanya merupakan tradisi masyarakat Krapyak kini telah berkembang menjadi agenda budaya yang mampu menarik ribuan pengunjung, termasuk dari luar daerah.

"Festival ini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, kami akan mendorong Festival Bubur Suro agar dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sehingga memiliki perlindungan dan pengakuan yang lebih luas," katanya.

Puncak festival ditandai dengan pembagian 5.000 tangkir Bubur Suro kepada masyarakat. Ribuan warga yang telah memadati lokasi sejak sore tampak antusias mengikuti kirab dan berebut bubur yang menjadi simbol rasa syukur serta kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Islam.

Melalui sinergi antara pelestarian budaya, penguatan ekonomi syariah, dan pemberdayaan UMKM, BI Tegal berharap Festival Bubur Suro tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi model pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Berita Daerah

Bagikan artikel:

Banner Iklan
Jadwal Tayang Rabu
Jam Program
08:00 Innovator (DW)
09:00 Indonesiana
11:00 Kominfo Newsroom
12:00 Indonesiana
14:00 Berita Daerah (siang)
15:30 Dolan Paud
16:00 Kajian Islam
17:00 Icip-icip
17:30 Before After
18:00 Indonesiana
18:30 Besti
19:00 Berita Daerah (malam)
20:00 Innovator (DW)
20:30 Corat Coret (PFN)
21:00 Wayang
Banner Iklan