Mangrove Lifestyle: Cerita dari Lumpur yang Menjaga Masa Depan
M. Seif Robbani   |   25/05/2026 - 18:47 WIB
Mangrove Lifestyle: Cerita dari Lumpur yang Menjaga Masa Depan

Pagi di pesisir Mulyorejo tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya berbicara dengan cara yang lebih pelan. Angin laut berdesir, dedaunan mangrove berbisik, dan akar-akar bakau berdiri seperti penjaga yang tak pernah lelah.

Di antara itu semua, manusia datang. Bukan untuk menaklukkan. Tetapi untuk belajar kembali.

Di Eduwisata Mangrove Banawa Sekar Mulyo Asri, Tim Riset The Mora Air Funds 2026 menggelar program Mangrove Lifestyle: Inovasi dan Hilirisasi. Nama yang mungkin terdengar akademis, tetapi praktiknya justru sangat membumi.

Tidak ada panggung megah. Tidak ada sekat status. Yang ada hanyalah lumpur, tawa, dan kesadaran yang perlahan tumbuh.

Program ini menjadi bagian dari riset besar tentang bagaimana perempuan pesisir menjaga tradisi, ekonomi, sekaligus lingkungan dalam satu napas kehidupan.

Kegiatan dimulai dengan langkah sederhana: berjalan. Peserta menyusuri jalur kayu di tengah hutan mangrove. Perempuan pesisir memimpin gerakan harmoni senam yang bukan sekadar olahraga, tetapi cara menyatu dengan alam.

Di sini, mangrove tidak mengajar lewat teori. Ia mengajarkan lewat keberadaan. Mangrove tidak bicara, tapi: menahan ombak, menjaga tanah, dan menyaring kehidupan.

Saat bibit mangrove mulai ditanam, suasana berubah menjadi lebih hening. Tangan-tangan bergerak pelan, seolah sadar bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang penting.

Bukan sekadar menanam pohon. Tetapi menanam keberlanjutan. Setiap bibit adalah bentuk perlawanan: terhadap abrasi, terhadap banjir rob, dan terhadap masa depan yang terancam.


Ketua Tim Riset Mora The Air Funds 2026, Prof. Dr. Maghfur Ahmad, membuka kegiatan dengan narasi yang kuat dan reflektif. Ia menegaskan bahwa mangrove bukan sekadar tanaman pinggir laut yang tumbuh liar di kawasan pesisir.

“Mangrove tidak semata-mata pohon. Mangrove adalah peradaban, pengetahuan, ideologi, dan sumber kehidupan,” ujar Maghfur di hadapan peserta.

Kalimat itu menjadi denyut utama kegiatan. Mangrove dipandang bukan hanya sebagai objek konservasi, melainkan simbol relasi manusia dengan alam. Sebuah pengetahuan hidup yang diwariskan masyarakat pesisir selama bertahun-tahun.

Prof. Dr. Maghfur Ahmad juga menyampaikan dengan tegas bahwa Mangrove bukan sekadar tanaman. Ia adalah cara hidup.

Mangrove juga menunjukkan sisi lain yang jarang dilihat: sisi kreatifnya. Buahnya diolah menjadi sirup manis dengan jejak rasa laut. Diolah lagi menjadi dodol lengket, tapi penuh cerita.

Sementara itu, daun-daun mangrove berpindah ke kain putih melalui teknik eco-print. Dari sesuatu yang sederhana, lahir karya yang bernilai.

Ketua Banawa Sekar, Mas Ridho, menyampaikan satu hal penting Kalau dijaga, mangrove memberi lebih dari yang kita bayangkan.

Mas Ridho, yang menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa mangrove memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai basis ekonomi masyarakat. “Mangrove bukan hanya benteng ekologis. Kalau dikelola dengan kreatif, mangrove juga bisa menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ungkapnya.

Didampingi Mas Tayo dan Mas Hendri, proses belajar terasa ringan. Tidak ada yang menggurui. Semua saling mengisi. Kadang tertawa saat terpeleset lumpur. Kadang serius saat mencoba memahami. Namun di situlah letak kejujurannya, bahwa perubahan memang tidak selalu rapi, tapi selalu berarti.

Hari itu akhirnya selesai. Namun yang dibawa pulang bukan hanya pengalaman. Ada cara pandang baru: bahwa menjaga alam bukan tugas besar yang rumit, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama. Mangrove hari itu tetap berdiri di pesisir.

Tapi sesuatu telah berpindah ke kepala, ke hati, ke cara manusia melihat masa depan. Dan mungkin, dari tempat sederhana seperti itu, dunia pelan-pelan bisa diperbaiki.

Berita Daerah

Bagikan artikel:

Banner Iklan
Jadwal Tayang Selasa
Jam Program
08:00 Innovator (DW)
09:00 Indonesiana
11:00 Kominfo Newsroom
12:00 Indonesiana
14:00 Berita Daerah (siang)
15:30 Innovator (DW)
16:00 REV (DW)
16:30 Gerak dan Gaya
17:30 Anjang Desa
18:00 Pojok Terampil
18:30 De Journey
19:00 Berita Daerah (malam)
20:00 Expose
21:00 Wayang
Banner Iklan